21 April 2018, bertepatan dengan ulang tahun AIMI ke-11, saya berkesempatan ikut ke acara Workshop mengenai Kode WHO yg mengatur pemasaran produk Pengganti ASI (disingkat PASI), dan menonton film Tigers (2014), bercerita ttg kisah nyata sales rep susu formula yg membongkar praktek ilegal perusahaannya, terkait Kode WHO.
Panelis workshop terdiri dari @sutanto_mia, @housniati dan @dibamommy. Materinya sangat menarik dan sangat membuka mata kami yang cukup newbie dengan aturan Kode WHO (dan aturan-aturan lainnya yg sebenarnya sudah ada banyak tapi juga masih dilanggar). Suami dan saya hanyalah salah satu dari pejuang ASI di Indonesia yang berusaha membantu sebisa kami dalam menyiarkan kabar indah tentang ASI terhadap kerabat sekitar yang baru melahirkan. Kami juga merasakan betapa gencarnya marketing dr produk-produk yang termasuk negative list (sufor, botol, dot, empeng, makanan MPASI instan). Setelah mengikuti workshop ini, kami jadi lebih paham yang mana yang harus dihindari, terkait dari sisi pribadi dan sisi organisasi yang saya ikuti.
Film Tigers (2014) menceritakan ttg bagaimana seorang sales rep susu formula terkenal di Pakistan, menyaksikan dampak buruk dr susu formula yang dijualnya, dengan trik marketing yg melanggar kode WHO. Yang akhirnya berubah haluan menjadi pelapor pelanggaran perusahaannya ke WHO. Filmnya disutradarai Danis Tanovic. Di akhir acara, kami berkesempatan bertemu muka (lewat video call) dengan Syed Aamir Raza Hussein, orang yang menjadi sumber cerita film Tigers ini. Lalu tak disangka muncul dr. Utami Roesli SpA, IBCLC, FABM, yang ikut diskusi bareng dengan penonton.
Beliau, dr. Utami Roesli SpA, IBCLC dan Ibu @sutanto_mia adalah nama-nama yang saya baca profilnya, Feb 2009 pernah saya hubungi via sms (ketika keponakan pertama saya lahir dan saya membantu proses menyusui sepupu saya). Siapa sangka saya akhirnya bisa bertemu muka dan bercakap-cakap langsung, .. dan foto bareng.
Dok Utami sempat bercerita ke saya: WHO merekomendasikan menggendong (juga skin-to-skin) tidak hanya saat bayi prematur, tidak hanya umur infant (0-3 bulan), tapi selama mungkin (atau sekuat penggendong).


No responses yet